who is Nesya?

Kalau kalian mencari kata mutiara tidak akan didapatkan. Aku hanya ingin memulai menulis ini untuk suatu hal, yang akan aku jelaskan mungkin di tulisan yang akan muncul setelah ini. 

Blog pada saat ini jelaslah kuno, ya iya. Orang sudah beralih ke vlog, kenapa aku baru mulai? Entahlah pengen nulis aja rasanya. Vlog juga cant relate dengan orang introvert nan dekil like me, kurang pede rasanya. Inilah perjalanan hidupku. Dimulai dari sini ya, dari nol kalau kata karyawan spbu.. 


Aku dilahirkan di sebuah kota, bukan kota tepatnya tapi kabupaten kecil di Jawa Tengah sampai kelas 1 SMP semester 1 masih disana. Bapakku hanyalah sopir bis antar kabupaten pada saat itu, hingga aku naik kelas 6 SD bapak mencoba mencari peruntungan lain ikut merantau om yang sudah jauh lebih dulu ke Sulawesi, di perusahaan sawit tepatnya. Bagaimana keadaan saat itu? Dengan penghasilan segitu, yap aku berpikir tidak pernah merasa kekurangan, tapi entah ya gimana tu orangtua putar otak. Kami tinggal dirumah kecil, cukup untuk bernaung. Belum punya motor pula, sesekali pernah merasakan naik motor ya ketika nebeng temen yang diantar bapaknya. Tapi gak sedih juga, karna saat itu masih jarang yang punya motor. Kemana-mana ngangkot say, tapi gak pernah juga kemana-mana. 

Hingga setaun bapak di Sulawesi beliau mengajak kami sekeluarga, yang terdiri dari ibu, aku dan kedua adikku untuk ikut hijrah kesana. Awalnya aku menolak, aku pikir akan lebih enak di Jawa. Tapi entah seminggu sebelum keberangkatan justru aku membuat keputusan untuk ikut ke Sulawesi. 

Pertama kali pengalaman naik pesawat, apakah fine-fine saja? Oh tidak, aku mabok say. Maklum orang kampungg. Kalau dipikir-pikir kenapa juga mabok, padahal nyaman banget. 

Perjalanan cukup panjang, harus transit dulu di Makassar baru menuju ke Palu, tidak cukup disitu, kami harus menempuh perjalanan darat lagi entah berapa jam menuju perkebunan sawit. Ohiya, kepindahanku ke Sulawesi juga bakal pisah sama orang tua, aku akan ikut bulek dan paklekku tinggal bersama mereka. Mau tau gak alasannya? Karna sekolah SMP di sekitar perusahaan bapak tidak memadai. 

Diwaktu inilah perjalanan kemandirianku dimulai ðŸ˜‚ gimana rasanya? Gak karuan cuyy, nangis hampir tiap malam, nangisin ibu pastinya. Padahal ketika di Jawa masih sering ngeyel. Dan disitulah titik balik hidupku. Sejak dulu aku tidak suka belajar, sama sekali tidak. Hanya belajar ketika besok mau ulangan semester, dan dapat dipastikan nilaiku jelek semua ðŸ˜‚ 

Setelah pisah orangtua rasanya duniaku runtuh, alhamdulillah dikasih hidayah sama Allah. Akhirnya mau belajar, tiap hari belajar, kapan aja belajar, semata-mata hanya apalagi yang bisa aku tunjukkan untuk orangtuaku yang jauh disana. 

Oke, hari pertama masuk sekolah diantar menggunakan motor sama paklek. Karena kedatangan sampai rumah kemarin adalah malam hari, maka di pagi hari ini baru terlihat semua bahwa sepanjang mata memandang 360 derajat nih isinya sawitt semuaa. Sawit cuy, sawit. Pikirku Ya Allah mau dibawa kemana aku, hutan begini dengan air mata sudah dipelupuk. Kalau ngana bilang lebay silahkan, seumur-umur saat itu hidup di Jawa penuh dengan keramaian dihadapkan dengan keadaan begini,  rasanya pengen balek ke Jawa ðŸ˜‚ 

Disekolah hingga beberapa bulan di bully terus, gara-gara bahasaku medhok jowo. Sedih? Sedihlah, tapi ya mogimana lagi. Padahal sudah berusaha untuk menyeimbangkan dengan logat bugis tapi tidak bisa juga. Mencoba belajar dari istilah-istilah biasa sampai ngomong kata kasar nan jorok yang belum tau artinya saat itu sambil teriak yang berakhir dimarahin adek sepupu ðŸ¥º

Tapi mereka baik-baik semua, hanya belum bisa menerima kemedhokanku ini. Mereka gak tau aja misuh pake basa jawa tu enaknya gak ada tandingannya😌


Dahlah, baru sebulan berinteraksi dengan teman baru eh udah pindah lagi. Pindah rumah plus pindah sekolah, rasanya monangis😭 karna aku tipe orang yang susah beradaptasi, pindah merupakan mimpi buruk. Tapi disekolah kedua ini temen-temen lebih friendly, lebih bisa menerima kemedhokanku. Nah disini juga titik balik hidupku lagi, disekolah ini siswi muslim diwajibkan untuk berjilbab. Dan apakah aku besoknya langsung pake? Tentu saja tidak🤣 belum dapat hidayah, gak malu juga sebagi satu-satunya siswi muslim gak pake jilbab. Setiap kali pelajaran agama pake mukena. Entah berapa bulan sekolah akhirnya sadar dan malu trus minta dibelikan rok dan baju panjang. Walaupun dirumah masih dibuka, pake jilbab hanya sekolah aja tapi sedikit kemajuan lah.  Banyak banget cerita di sekolah ini, sampai lulus. Guru-guru baik kayak orangtua sendiri, apalagi yang Ibu-ibu pada baek semua ðŸ˜­ kangen , eh maaf emot ðŸ˜­ tuh saking terharunya ya. 


Setiap pulang kerumah orangtua juga hanya setaun sekali, keadaanya gimana? Ngeri juga cuy. Jujur pertama kali liat ibu saat sudah lama sejak kepindahan di Sulawesi kaget banget ðŸ˜­ ibuku jadi kusem gitu mukanya, hampir tidak kukenali. But i know, kami semua sedang berjuang. Berjuang untuk kehidupan sedikit lebih baik. 


Dulu aku SMK di Palu, atas permintaanku sendiri dan secara sadar, tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Bapak selalu mendukung keputusanku begitu juga Ibu. Bukan berarti aku sekolah atas permintaan sendiri lantas senang. Ternyata tidakk sebaik itu ferguso ðŸ˜‚ 3 tahun tinggal di asrama, banyak teman. Bukan berarti gak sedih, beberapa bulan awal sekolah nangis setiap hari, nangis tiap telfon orangtua ngerasa gak betah pengen pindah, tiapp hari. Untungnya punya orangtua sesabar itu, ibu hanya menasehati “itulah hidup, hidup itu berat. Jalani saja, tanpa terasa nanti sudah terlewati” dan pesan kedua “jurusanmu susah, kalaupun mau pindah ke Jawa gak bakal juga tinggal dirumah, disana ndak ada farmasi mesti luar kota nah kan harus kos lagi”. Hingga akhirnya anak ini mampu bertahan sampai lulus. Menuliskan bahwa nantinya harus menjadi apoteker, yap cita-citaku saat itu. 

Komentar